UNTITLED
CHAPTER 1 PART 1
Created & Written By Kirizaki
Hari
itu masih sedikit lebih gelap dari biasanya, Astro masih sibuk berjalan ke arah
basenya. Kota Birch masih ramai walau dini hari, kehidupan seakan tak pernah
berhenti berjalan disini. Kota ini masih ramai dengan manusia dan para cyborg,
dua bangsa yang secara politik saling membenci. Namun tak pernah seperti itu di
underground, justru sebaliknya mereka saling menyukai, berteman baik, dan
saling memanfaatkan demi keuntungan masing-masing. Setidaknya segelintir dari
mereka benar-benar berteman, secara tulus. Begitulah penilaian dari Astro
sendiri kepada beberapa teman cyborg yang ia kenal sejak lama.
Astro
sampai di persimpangan, ia hanya perlu berjalan satu blok lagi kearah utara
untuk sampai dibasenya. Dipersimpangan itu ia bertabrakan dengan seorang
wanita, mereka terjerembab satu sama lain. Mereka terjatuh dan ssaling menatap
satu sama lain. “Sialan, apa perlu aku mengganti matamu dengan mata yang sama
denganku hah? Dasar bocah tengik sialan !” Astro yang terjatuh bangun dan
mengulurkan tangan kepada wanita itu, sekilas ia menatap wanita itu, kearah
mata kirinya yang sudah tergantikan dengan mesin dan bola kaca, mata itu
langsung melihat kearah Astro dan melakukan scanning. Sinar biru memancar dari
matanya dan menscanning Astro dari atas hingga bawah.
Astro
terkejut dan bergerak mundur, wanita tersebut kemudian berdiri dan meludah
kearahnya sambil berkata “Dasar manusia murni, menjijikan.” Sambil kemudian
menoleh dan berjalan pergi dengan jengkel.
Astro
hanya tertawa dan melihat kearah lain, ia tak tahu kalau menjadi manusia tanpa
modifikasi menjadi masalah sekarang. Orang-orang melihat pertikaian sebelah
pihak mereka berdua sambil berbisik dan berusaha menghindar, sudah menjadi
peraturan tak tertulis di Birch, hindari jika tak mau mati.
Astro
terus berjalan kearah utara setelah melewati persimpangan tadi, di ujung jalan
Mothberg sebelah kiri dari arah persimpangan yang ia lewati. Astro melihat
sekumpulan orang berkumpul ditengah club sambil berbincang, dari sebagian tangan
mesin, kaki-kaki mesin yang mengeluarkan cahaya dan sebagian dari mereka
berwajah setengah robot Astro bisa langsung menilai.
Club
Birch malam ini akan berisi penuh dengan para Cyborg yang kaya dan menyebalkan.
Ia melupakan hal itu dari pikiranya dan
terus berjalan, di depan gerbang base ia disambut oleh paman Winnie. Winnie Oh
Young adalah seorang manusia sama seperti Astro, usianya 53 tahun bertubuh
gempal dan berjanggut tebal dan punya raut wajah yang ramah, serta beraksen
ghetto, aksen yang sudah lama dilupakan. Astro sudah menganggapnya sebagai
pamannya sendiri sejak ia kecil, sejak ia dibesarkan di Distrik terbuang ini,
di Base ini.
“Yoo
Astro my boy whats up men? What you got there homie?” Tanya paman Winnie
sambil merangkul Astro dari samping. “Oh
paman diamlah dan berhentilah berbicara dengan gaya itu, kau itu Asia aksen
yang sudah mau punah itu tak pernah cocok untukmu.”
“My
boy Astro, dengar nak. Selalu ingat kata-kataku jangan pernah melupakan siapa
kita dan asal usul kita. Aku tumbuh dan lahir dengan keturunan-keturunan orang
dari kota Los Angles, walau budayanya
sudah punah sekarang, tapi aku tetap membawanya dihatiku hingga sekarang. Remember
son, proud to be a human,” kata paman
Winnie sambil menunjuk ke dada kiri Astro.
“Ya
ya ya, baiklah paman baik. Ini kesekian kalinya kau bicara begitu padaku. Kau
mau terus bercerita atau mau makan? Aku bawa makanan, cukup sulit menemukan
yang seperti ini sekarang. Kau taukan bagaimana pengamanannya bulan ini?” Astro
menunjukan sebungkus besar mie ramen dan hot dog dalam kemasan yang ada di
sakunya.
Paman
Winnie terkesima dan kegirangan, “Homie, luar biasa sekali kau dapat itu dari
mana? Ahh aku sangat merindukan makanan ini. Sudah muak aku makan makanan yang
dibuat di lab kau taukan, well aku rasa kita semua tau kadang seonggok kotoran
jauh lebih nikmat dari makanan para cyborg.” Astro dan paman Winnie tertawa
sambil menutup gerbang base dan berjalan ke rumah mereka berdua.
Base
ini adalah satu-satunya base yang tersisa di Distrik Johtron sejak 30 tahun
terakhir, oleh karena itu base ini hanya dihuni oleh segelintir masyarakat yang
sudah tua. Mayoritas manusia yang tinggal disini hanyalah lansia dan beberapa
anak kecil. Hanya Astro yang berusia belasan tahun, lebih tepatnya 15 tahun.
Maka dari itu Astro lebih banyak menghabiskan waktunya diluar base untuk
berpetualang di kota. Tak banyak yang bisa ia lakukan dengan anak-anak berusia
5 hingga 9 tahun dan beberapa lansia.
Salah
seorang nenek berteriak dari seberang jalan dan menyapa Astro dan Winnie. “Hei
kalian para pencari onar, mampirlah kemari dan makan malam disini !” kata Welis
dari jauh, nenek berperawakan kurus dan pendek berambut ikal putih yang selalu
menyapa Astro setiap ia pulang berkeliling kota.
“Kulakukan
besok nyonya Welis, aku dan paman sedang menyiapkan hidangan spesial !” teriak
Astro dari kejauhan. “ohh begitukah, hati-hati dengan sampah yang kau ambil
Astro itu mungkin mengandung radio aktif.”
“Jangan
hiraukan anak ini nyonya Welis, aku akan menjaganya dengan baik.” Kata Winnie
sambil tertawa.
Nyonya
Welis hanya melambaikan tangan seraya mereka berdua berjalan menjauh. Base ini
terdiri dari beberapa rumah kecil yang berderet dan terbagi menjadi dua bagian
diantara jalan utama dari base ini. Jangan bayangkan rumah-rumah abad ke 21
yang sudah semua punah setelah perang besar. Rumah-rumah di abad ini jauh lebih
modern, dan hampir semua hanya menggunakan bahan metal. Tak adalagi konstruksi
bangunan yang menggunakan batu bata ataupun genting ataupun beton baja,
bahan-bahan lama itu sudah lama ditinggalkan penduduk kota Birch. Semua terbuat
dari metal dan semua bangunan di base ini berbentuk sama. Bangunanya hanya
berbentuk kotak dan persegi panjang dari ujung ke ujung. Paman Winnie pernah
bercerita kepada Astro hal ini dulu dilakukan untuk mempermudah para pengungsi
memilih tempat tinggalnya tanpa harus perlu membeda-bedakan rumah mana yang
mereka sukai.
Bangunan
disini memang lebih modern, namun tetap usang dan kumuh. Astro terkadang
berharap bisa tinggal di bagian kota yang indah dan gemerlap dengan bangunannya
yang megah dan indah seperti di Distrik Wellsberg tempat para cyborg elit
tinggal. Namun ia sadar semua itu hanya mimpi dan sulit bagi astro untuk
mewujudkan mimpi tersebut, namun ia tak pernah berhenti berharap akan hal
tersebut.
Mereka
berjalan kearah rumah mereka nomor 49, berada di paling ujung base dan paling
berdekatan dengan pintu belakang base yang langsung menuju ke arah pembuangan
sampah dan limbah kota Birch. Winnie menempelkan mata ke kamera pengaman kecil
yang ada ditengah pintu dan pintupun terangkat dan terbuka karah atas dan
mereka berduapun masuk.
Setelah
makan malam mereka masih berbincang, merasa sedikit penat. Astro mengajak paman
Winnie untuk naik ke ruangan bintang lantai atas. Ruangan bintang tidak adalah
ruangan yang Astro design sendiri untuk mengamati galaksi local di gugus
galaksi bumi. Sudah terlewat hampir seratus lima puluh tahun lebih sejak
manusia bisa menginjakan kaki ke setiap planet di tata surya dan mulai
mengunjungi beberapa tata surya lain di galaksi kita. Pemerintah sendiri sedang
merencanakan untuk melakukan perjalanan antar galaksi, untuk melakukan
penjelejahan lebih jauh mengenai gugus galaksi kita dan galaksi local lainnya
disekitar kita. Namun masih butuh
perencanaan yang lebih matang, dan tidak ada satu manusiapun yang akan dikirim
dalam ekspedisi itu pastinya, pikir Astro.
Paman
Winnie duduk di tempat duduk khusus untuk melakukan pengamatan, kursi tersebut
secara otomatis naik keatas dan merendahkan posisinya hingga membuat paman
Winnie berada pada posisi berbaring, kacamata layar navigasi hologram muncul
secara otomatis di depan wajah Winnie dan menampilkan grafik pada sisi bawah
dan atasnya tentang bagaimana kondisi di angkasa dan memberikan visual langsung
bagaimana permukaan yang ada pada tiap planet secara detail dan jelas. Astro
melakukan hal yang sama, dan berbaring di kursi pengamatan kedua di samping
Winnie.
Winnie
menggeser layar navigasi kearah Astro dan secara otomatis menampilkanya di
hadapan Astro, layar itu menampilkan lubang cacing yang cukup besar yang ada
tepat ada di atas kota Birch. Hanya saja ada sejauh beberapa mil di angkasa,
tepat di atas Statospher. “Ada apa dengan lubang transportasi paman?”
“Kau tau nak, aku pernah mendengar cerita kakekku dulu mengenai lubang cacing. Ia pernah bilang bahwa hal itu adalah penemuan terbesar di masa mudanya, lubang cacing sebagai jalur transportasi super cepat antar planet dan tata surya lainnya. Memudahkan perjalanan ekspedisi luar angkasa yang sebelumnya hampir mustahil dilakukan, sekarang semudah membalikan telapak tangan, well tidak semudah itu secara harfiah tapi aku yakin kau tau maksudku.” Astro tertawa dan berkata “lanjutkan paman, aku masih mendengar.”
“Iya
dan menurutku hal ini masih sangat luar biasa menurutku, lubang cacing besar
dengan diameter luar berwarna ungu. Apa suatu hari kau berharap bisa melewati
hal tersebut dan datang ke planet atau tata surya atau bahkan galaksi lain yang
kau tidak pernah lihat sebelumnya ?”
“Ya, aku akan melakukannya sebelum
aku mati.” Kata Astro sambil memandang langsung kelangit dan menutup layar
navigasinya. “Kau tau aku kadang lebih menyukai memandang langit secara
langsung dari pada melihat layar itu, yah walaupun banyak mobil pengangkut yang
berlalu lalang pada jam ini.” Kata Astro sambil menunjukkan mobil jet besar
yang membawa bongkahan muat yang berlalu lalang sesekali diatas mereka.
“Ya, aku rasa kau benar, well
sebenarnya aku berharap untuk menggunakan beberapa peralatan keras kita untuk
menyingkirkan mereka dari pandangan kita sesekali.” Mereka berdua melihat
kearah lemari besi penuh dengan barang temuan mereka dengan banyak tombol
navigasi di sebelah kiri mereka.
“Aku rasa itu bukan ide yang baik.”
Jawab mereka bersamaan sambil tertawa.
Pada tengah malam Astro tiba-tiba
terbangun dari tidurnya dan terduduk dikasurnya, ia masih ingat beberapa jam
lalu ketika ia membicarakan lubang cacing dengan pamannya. Dan kali ini ia
terbangun karena mendengar suara guncangan yang cukup bising diatas rumahnya,
ini bukan pertama kali ia mendengar hal tersebut terjadi di atas rumah ini.
Sering kali beberapa mobil jet pengangkut menjatuhkan beberapa potongan puing
sampah yang berasal dari distrik pusat diatas atap kaca rumahnya. Tepat diatas
ruangan bintang yang atapnya beralaskan kaca horographic yang transparan, hal
ini membuat Astro kesal sesekali karena sulit melihat angkasa jika ada kotoran
diatas atap rumahmu bukan?
Tapi kali ini Atsro tau betul bahwa
ini bukan suara tersebut, ini jauh lebih keras dan jauh lebih tinggi asalnya.
Ia melihat ke pojok kamarnya yang berwarna keunguan. Interior kamar Astro lebih
mudah dijelaskan sebagai anak laki-laki yang senang berpetualang menurut Winnie
pamannya. Karena setiap temboknya berisikan potongan sobekan buku, coretan
gambar dan lukisan dari abad 21 satu yang telah lalu, beberapa alat canggih
ciptaanya sendiri yang ia pajang pada pojok kiri kamarnya. Untuk melengkapi
keanehan anak ini, ia menerangi seluruh ruangan kamarnya yang serupa dengan
kabin kapal ruang angkasa ini dengan lampu ultra light rgb yang akan berubah
warna sesuai dengan moodnya.
Sayangnya
moodnya kali ini sedang was-was dan seluruh ruanganpun berwarna merah terang,
ia menyesali keputusannya mengenai lampu tersebut pikirnya. Dentuman keras
kembali terjadi, satu kali.... dua kali.... dan akhirnya ketiga kali. Dentuman
ketiga terasa lebih dekat dari dentuman yang kedua, seakan ada benda dari
langit yang mendekat dan semakin mendekat ke tanah. Ia langsung berlari keluar
keluar dari kamarnya, kakinya tersangkut sarung tangan elastis yang ia buat
minggu lalu. Sehingga ia jatuh dan terjerembab, kali ini ia tak menghiraukan
hal tersebut dan terus berlari kearah luar dan menaiki tangga putar otomatis
yang ada didepan kamarnya. Ia naik ke ruang bintang untuk melihat lebih jelas.
Astro
berlari kearah dan menorobos pintu dan meraba tembok yang ada disebelah
kirinya, ia menemukan tombol tersebut dan kemudian menekannya dengan keras.
Langit-langit ruangan itu terbuka kearah yang berlainan dan memperlihatkan
lapisan kaca pelindung dibaliknya dan memperlihatkan langit malam dengan jelas.
“Ohh
ini gila.” Itu adalah kata-kata pertama yang dikatakan Astro ketika ia menengok
kearah atas, ke langit malam yang ditatapnya beberapa jam lalu bersama Winnie.
Sebuah
pesawat kecil terlihat memasuki atmosfer kota Birch dan hendak jatuh kearah
kediamannya. Astro tidak yakin apakah pesawat itu akan tepat jatuh kearah
rumahnya, ia mengamatinya lebih erat selama beberapa detik dan menghitung
jarak, kecepatan, dan arah jatuhnya dengan cepat. Semua itu dilakukan didalam
kepalanya hanya dalam hitungan detik saja, dan ia menemukan titik kordinat yang
tepat.
Tanpa
pikir panjang ia berlari melewati koridor dan menuruni tangga putar
otomatisnya, dan berlari melewati ruang tamu. “Jangan berlari Astro,
berhentilah tidur sambil berjalan. Kau sudah terlalu besar untuk itu.” Teriak
Winnie dari dalam kamarnya yang baru saja di lalui Astro. Tapi Astro tidak
bergeming, ia langsung membuka pintunya rumahnya sambil berlari dan menyambar
sepatunya yang digantung dipintu. Ia kemudian melempar sepatu yang hanya
berbentuk alas tersebut ketanah dan menginjaknya sambil berlari kearah yang ia
yakini sebagai titik pendaratan pesawat tersebut. Secara otomatis sepatu
tersebut berubah bentuk dari alas kaki menjadi sepatu lengkap sebagai
pelindungnya dengan dorongan jet kecil tepat ditumitnya. Ini membantu Astro
berlari lebih cepat karena sepatu tersebut memberikan dorongan sembari ia
berlari. Astro tak pernah menyesali mulai merakit benda ini musim panas lalu, tidak
hingga sekarang. Ini pertama kali ia menggunakan alat ini setelah beberapa
percobaan yang gagal, dan ia bekerja dengan sempurna disaat yang memang Astro
sangat butuhkan.
Ia
terus melihat keatas, pesawat itu semakin dekat ketika ia sampai di area pembuangan
setelah ia memutari rumahnya dan masuk lewat pintu selatan pembuangan. Area itu
adalah area yang tak ingin di datangi penduduk kota Birch. Bukan karena
pemerintah kota Birch, karena Astro sendiri juga tidak yakin ada yang mau
mendatangi tempat itu juga dibayar sekalipun. Itu tempat pembuangan berbagai
macam alat teknologi dan limbah metal dan komponen-komponen dari mesin-mesin
selama 150 tahun terakhir. Penduduk kota khususnya cybrog menganggap tempat itu
adalah tempat yang berbahaya dan menjijikan, mengingat isinya adalah
barang-barang rongsok dari masa lalu. Namun astro menganggapnya adalah pulau
harta karun berisi banyak hal yang bisa di temukan. Kali ini ia kesana bukan
untuk menelusuri tempat itu. Tapi untuk berlari mengejar pesawat kecil yang dalam
beberapa detik mendarat melewati kepala Astro dan jatuh tepat beberapa ratus
meter di hadapannya. Pesawat itu menghantam gunung sampah rosokan dan perkakas
dengan keras, hingga terus terseret sejauh beberapa meter meninggalkan jejak
api yang panjang dan membelah gunung sampah yang di laluinya.
Atsro
terus mengejarnya sambil terus berteriak “Astaga ini luar biasa sekali. Astaga
!!” sambil mengusap-usap rambutnya karena panik sekaligus bergembira, dan ada
sedikit perasaan sedih karena ia takut ada awak pesawat kecil yang terluka
didalamnya. Ia hanya berharap jika memang ada orang didalamnya. Ia bisa
selamat, tidak ia harus selamat pikir Astro.
Astro
terus berlari dan mulai kehabisan nafas hingga akhirnya kakinya berhenti
melangkah. Tepat didepan tumpukan rongsokan di depan ia berdiri bangkai kapal
kecil itu berada. Astro sampai tidak mengedipkan matanya, ini pertama kali ia
melihat hal seperti ini di hidupnya.
Kapal
itu berupa kapal awak kecil berbentuk pod penyelamat, Astro mengira ini memang
pod penyelamat dari kapal induk besar yang ada diatas sana. Kemungkinan besar
itu terjatuh karena suatu hal, entah itu penyelamatan diri karena kapal induk
yang sudah tak bisa ditempati atau pendaratan darurat karena suatu hal.
Namun
satu yang pasti, Astro melihat pod kecil itu dihadapannya. Pod itu berwarna
putih, hanya ada satu jendela kecil di samping pintu masuk. Posisi
pendaratannya tidak cukup bagus, melihat bagian pintu yang ada diatas sehingga
membuat pod kecil ini terbalik dan menyulitkan Astro untuk bisa melihat
kedalam. Ia berjalan untuk mendekat, jantungnya terus terpompa dengan cepat
seakan ia sedang berlari sekencang-kencangnya.
Ia
sampai kearah pod tersebut dan menyentuhnya, langkah yang buruk karena dalam
sepersekian detik tanganya terpanggang. “ahhhh !!”
“Sial,
aku lupa soal tekanan atmosphernya. Sial ini menyakitkan.” Teriak Atsro sambil
bergerak mundur dan memegangi tangannya. Ia bergegas untuk naik lebih tinggi
kearah samping pod tersebut untuk bisa melihat bagian dalamnya, ia hanya terus
berharap dalam hati bahwa orang didalamnya bisa selamat. Ia sampai di tumpukan
yang lebih tinggi, dan berhasil melihat kedalam pod tersebut. Saat itu juga
jantungnyapun berhenti, ia sadar bahwa keinginanya telah terkabul. Ia melihat
seorang gadis di dalam pod tersebut, gadis itu terikat di kursi penumpang
lengkap dengan baju yang mirip dengan legimen galaksi. Hanya saja baju ini
terlihat lebih kuno karena berukuran sangat besar, ia merasa pernah melihatnya
di suatu tempat.
Ia
segera melupakan hal tersebut, ia memukul pipinya dengan keras. “Aku harus
mengeluarkannya.” Terjadi keheningan sesaat, “Aku butuh alat-alatku.”
Iapun
mengambil menekan jam pengontrol kecil yang ada di lengannya. “Aku tak ingin
membangunkanmu quicko, tapi aku tak punya pilihan.” Katanya sambil berbisik, ia
pun meembuka jendela navigasi dan layar hologram muncul di hadapannya. Ia
menampilkan gambar sebuah robot anjing kecil, ada tombol bertuliskan awake
ia langsung menekannya.
Beberapa
ratus meter di kediaman Astro, di kamarnya. Sebuah anjing robot kecil yang
sedang terlelap di atas sebuah tempat tidur anjing kecil sedang tertidur lelap.
Pada detik yang sama ketika Astro menekan tombol tersebut, kasur Quicko
berwarna merah. Dan ia pun terbangun dari tidurnya.
Quicko
segera lompat dari tempat tidurnya, ia mengibaskan ekornya dan menggong-gong
layaknya anjing kecil yang hidup. Ia segera berlari keluar rumah, ketika
melewati pintu kecil untuk hewan yang ada dibagian pintu depan rumah. Kaki
quicko mengeluarkan api dan mendorongnya dengan tenaga jet kecil yang sudah di
design oleh Astro agar tidak terlalu berlebihan dan pas dengan ukuran tubuh
robot anjing kecil tersebut.
Quicko
melesat dan terbang dengan ketinggian yang rendah langsung menuju tempat Astro
berdiri tepat di samping pod tersebut. Di sisi lain tempat pembuangan Astro
melihat cahaya dari kejauhan dan ia tahu betul apa yang datang, ia segera turun
dari gundukan tersebut dan bersiap untuk melakukan sesuatu.
Quicko
melesat di udara dan mendarat tepat di hadapan Astro bagaikan roket kecil,
robot anjing kecil itupun menggonggong dengan menunjukan ekspresi senang sambil
mengibaskan ekornya.
“Maaf
aku membangunkanmu kawan, aku tak ingin melakukan itu sebenarnya. Tapi aku
sendiri tak punya pilihan.” Kata Atsro sambil mengelus-elus kuping Quicko yang
terbuat dari titanium padat level 9 yang telah di padatkan. Jauh berbeda dari
perasaaan asli ketika kalian mengelus anjing peliharaan kalian yang hidup, tapi
ini cukup pikir Astro.
“Aku
pinjam beberapa peralatanmu, tahan sebentar ya.” Astro menunduk dan membuka
tombol navigasi yang ada di punggung Quicko. Jendela perintah terbuka dan ada
laci penyimpanan kecil yang keluar dari sisi punggung Quicko menampilkan
beberapa alat kecil.
Aku
mengambil salah satu alat berwarna perak yang berbentuk pengait kecil, ia juga
mengambil sebuah sarung tangan mekanik yang segera ia kenakan di kedua
tanganya. Ia pun berlari kearah pod yang mendarat tadi, dan berdiri di
sampingnya untuk bisa naik ke gundukan sampah dan memposisikan bahunya agar
lebih tinggi dari pintu masuk pod tersebut yang ada di bagian atas.
Ia
mengenakan sarung tangannya, dan memegang kedua pintu tadi yang masih terasa
begitu panas. Sarung tangan itu mengeluarkan cahaya dan menarik kekuatan
magnetic yang cukup besar dari sekelilingnya, sarung tangan inipun berubah
bentuk dan memanjang menyelimuti seluruh lengan Astro hingga ke bahunya dan
memberikan dirinya kekuatan tambahan. Astropun mulai menarik pintu tersebut,
dan sarung tangan itu dengan daya dorong yang kuat berhasil membantu Astro
membuka paksa pintu tersebut.
Ia
melempar jauh pintu tersebut dan mengeluarkan pengait kecil yang tadi ia ambil,
dan mengarahkannya ke gadis yang ada di dalam pod tersebut. Ia melihat gadis
tersebut masih dalam kondisi tidak sadarkan diri, namun cara ia bernafas
terlihat sedikit lebih lega dari sebelumnya. Aku rasa ia bisa bernafas lebih
lega berkat aliran oksigen yang lebih baik sekarang, pikir Astro sesaat. Ia
memencet tombol yang ada di alat pengait yang berbentuk pistol tersebut, alat itupun
mengeluarkan tangan mekanik kecil yang mengarah langsung ke gadis tersebut.
Tangan mekanik tersebut memotong sabuk pengaman yang mengikat badan sang gadis,
dan ketika semua sudah terlepas. Tangan menanik itu melilit tubuh sang gadis
dan menariknya keluar.
Astro
bergerak mundur untuk memberikan ruang, ia berdiri di permukaan tanah yang
lebih rata dan menarik mundur alat pengait miliknya. Ketika ia melihat gadis
itu mendekat dan berada tepat di depannya. Ia sempat terkejut karena menyadari
gadis itu sedikit lebih muda dari bayangannya. Bahkan ia merasa mungkin mereka
sebaya, dan hal ini menjadi pertanyaan sendiri di benak Astro. Bagaimana
seorang gadis seumurannya bisa berada di pod penumpang yang berasal dari kapal
induk, yang seharusnya seluruh crew kapal induk adalah para orang dewasa yang
terpilih. Ia tidak pernah mendengar ada seorang anak yang dipilih oleh Birch
untuk melakukan misi ekspedisi.
Ia
tertegun sejenak dengan lamunanya, dan kemudian ia tersadar. “Sial, ini bukan
waktunya untuk ragu.” Astro segera menghentakan kakinya untuk menyalakan sepatu
jetnya, ia menggerakan tangan mekanik di depan tubuhnya sambil membantu
menopang gadis tersebut dengan tanganya sendiri. Pengait ini belum pernah ia
gunakan untuk mengangkat beban seberat ini sebelumnya dan ia khawatir akan
terjadi kesalahan sistem karena motor yang menggerakannya tidak kuat menahan
beban sebelum ia bisa sampai ke kediamannya.
“Sedikit
lagi, sedikit lagi tahan tahan kumohon!” Quicko mengikuti di belakangnya dan
mereka melesat dengan cepat kearah rumahnya.
Astro
melesat dengan cepat, dan menerobos pintu masuk yang terbuka dengan paksa. Ia
segera mematikan sepatu jetnya dan menaiki tangga otomatis menuju kamarnya. Ia
membaringkan gadis itu di tempat tidurnya sendiri.
Ia
kemudian berdiri dengan nafas tersengal-sengal, sambil mengelap keringat yang
ada di dahinya ia melihat kearah gadis yang masih pingsan tersebut. Rambutnya
coklat, garis wajahnya lembut namun ekspresinya yang sedang tak sadarkan diri
memberikan gambaran yang tertekan keras. Seakan ia baru saja mengalami hal yang
menyulitkan dan menyesakan.
Hidungnya
mancung dan bibir dan matanya mirip dengan beberapa gambaran gadis amerika lama
yang pernah ia lihat di reruntuhan museum lama yang ada di sebelah barat kota.
Astro ingin mengamatinya lebih dekat, namun ada ketakutan di hatinya.
“Nak,
kau sudah besar rupanya.” Suara dari belakang Astro, hal ini membuat Astro
melompat karena terkejut. Ia pun melihat pamannya Winnie berdiri di pintu
sambil bersandar dan tersenyum.
“Paman
apa yang kau lakukan? Kau bisa membuatnya terbangun !” Jelas Astro sambil
terkejut dan berbisik. “Aku rasa aku mengganggu, akan aku biarkan kalian dan
menikmati masa mudamu nak.” Kata paman Winnie sambil tersenyum berusaha
menggoda Astro.
“Apa?
Tunggu dulu ini bukan seperti yang kau pikirkan, aku menemukan orang ini di
pembuangan, pesawat pod kecil yang membawanya jatuh di sana. Aku melihat
lintasan orbitnya beberapa menit lalu dan langsung mengejarnya hingga ke jalur
pendaratan dan disana aku menemukan orang ini!” Jelas Astro sambil
terengah-engah.
“Usaha
yang bagus nak, tapi ayolah silahkan nikmati malammu. Aku harap ini jadi malam
terbaikmu. Hahaha.” Winnie hanya tertawa dan berusaha pergi dari kamar sebelum
Astro berdiri di hadapannya dan melarangnya untuk pergi.
Astro
berdiri dengan tegang di hadapan pamannya, ia kemudian menatap pamannya dengan
serius sambil mengeluarkan hologram dari jam tangannya yang menampilkan gambar
sebuah pod yang mendarat di tumpukan rongsokan.
Winnie
membuka matanya lebar dan terkejut, ia memegang rambutnya sambil menatap layar
hologram tersebut. “Jadi kau bukan sedang melakukan kencan dengan seorang gadis
dan berhubungan sex di kamarmu mengenakan pakaian luar angkasa lama?”
“Apa?
Tentu saja bukan! Ini situasi serius paman, aku tak punya waktu untuk itu.”
Jelas Astro dengan ketus. “Padahal aku berharap kau akhirnya mulai dewasa dan
menemukan gadis yang kau suka. Walaupun mungkin caramu agak aneh dengan
mengenakan pakaian itu, aku tau kau ingin berekspedisi tapi aku rasa hal itu tak
perlu masuk kedalam fantasy sexsmu.” Jelas pamannya sambil mengusap-usap
dagunya dan berpikir.
“Ah
sudahlah, aku tak ada waktu untuk itu, sekarang apa yang harus kita lakukan
dengan gadis itu?” Terang Astro dengan jengkel.
Merekapun
kembali kedalam kamar, Astro berdiri di sebelah kiri tempat tidurnya dan Winnie
berdiri di sebelah kanan. Mereka memperhatikan si gadis dengan baik, dari ujung
kaki sampai kepala. Mereka menyadari bahwa pakaian gadis ini masih terlihat
baru untuk pakaian luar angkasa yang ratusan tahun lalu digunakan. Seharusnya
tim ekspedisi sekarang sudah mengenakan pakaian hyper protection yang
jauh lebih ringan, nyaman dan 10 kali lebih aman dari radiasi cosmic yang
ada di luar angkasa. Tapi gadis ini berbeda, dan hal ini membuat Astro takut
akan hal tersebut.
“Aku
rasa kita perlu melepas pakaiannya, dan menyimpannya ditempat peralatanmu. Buat
partikelnya jadi lebih kecil dan simpan dengan hati-hati. Aku punya firasat
yang buruk soal ini nak, dan kita harus melakukan sesuatu dengan kapal pod
kecil yang gadis ini tumpangi ketika mendarat disini.”
“Apa
ini soal scavengers? Polisi-polisi galaxy itu?” Tanya Astro sambil duduk di
tempat tidurnya. “Ya, dan aku tak tahu butuh berapa lama hingga mereka tahu
pelanggaran lalu lintas angkasa mereka di tembus tanpa izin. Karena aku tau pod
itu tidak tampak seperti yang biasa kita pelajari dan lihat di tim ekspedisi.
Ini seakan datang dari pesawat yang berbeda dan tak memiliki izin resmi untuk
mendarat. Kita juga tidak tahu mengenai gadis yang kau bawa ini, kita harus
mencari tahu lebih dahulu. Sebelum itu kita harus membiarkan ia beristirahat
hingga ia sadar, dan kita bisa tanyakan langsung dari mana ia berasal, asal
squadron dan lainnya.”
48
JAM SEBELUMNYA
GALAKSI
MILKY WAY 10.000
TAHUN
CAHAYA DARI ORBIT BUMI
ORBIT
BINTANG 179
KORDINAT
123* 34* 98* 04* 199712*
Pesawat Induk
nomor 2.
Katherine
sedang berada di kockpit dengan beberapa pilot lainnya. “Dengar aku James, anak
itu tidak akan bisa bertahan lebih lama. Misi ini di buat untuk menemukan jalan
ke ke peradaban itu, aku tak ingin perjalanan ini berlangsung lebih lama lagi.
Aku sudah cukup lelah, kau lihat pesawat ini sudah terombang ambing entah
berapa minggu. Kita harus...” Tukas Katherine kepada James.
“Aku
tau Kate, diamlah aku sedang memikirkan jalan keluarnya. Kalau aku panik maka
akan menjadi malapetaka disini. Aku tak ingin terburu-buru dan membahayakan
orang-orang yang ada disini.” Bantah James sambil melihat jendela navigasi
untuk menentukan kordinat.
“Lalu
apa rencanamu sebelum seluruh bahan bakar kita habis bersama semua supply yang
ada?” tanyanya kepada James.
James
hanya menatap Katherine dengan lekat, ia hanya mengerutkan dahinya dan berpikir
cukup lama tanpa berkata apapun, ia kemudian memalingkan wajahnya dan melihat
ke sekeliling kapal.
“Cap,
aku rasa kau ingin melihat ini.” Teriak Ernie seorang navigator asissten dari
arah belakang kockpit.
“Bicara
Ern.” Jelas James singkat. “Aku melihat sebuah medan magnetic kuat tiba-tiba
saja terbentuk sejauh beberapa ribu mil dari sini. Aku tidak yakin apakah itu
gangguan hujan cosmic, tumpukan asteroid yang membentuk medan magnet atau
justru kordinat yang kita cari.”
James
segera mendatangi meja Earnie yang ada di belakangnya dan menatap layar
navigasi dengan cermat. Ia melihat sekumpulan energi magnet yang berkumpul pada
satu titik kordinat, dan jaraknya yang memang tidak terlalu jauh dari sini.
Jika mereka terus melaju dengan pesawat ini dengan kecepatan yang sekarang
mereka akan tiba disana dalam 3 menit.
“Apa
kau ingin kita merubah rutenya? Jika menurutmu ini hal yang....” Earnie hanya
menatap James dengan ragu
“Jalankan
saja, jangan mengubah apapun saampai aku memberikan aba-aba padamu, apa kau
paham?” Jelas James. “Baik cap”
Katherine
yang ada disitu mulai merasa khawatir, “Apa kau yakin? Aku tak pernah melihat
medan magnet yang sekuat ini. Aku rasa bukan ide yang baik kita tetap terus
berada di rute ini dan menuju langsung kesana tanpa melakukan observasi pada
medan energinya. James, aku rasa kita harus mengulur sedikit waktu. Lakukan
observasi dengan tim identifikasi lapangan dan olah partikelnya. Setelah itu
kita baru coba untuk mendekat.”
“Aku
ingin sekali mengikuti idemu Kate, tapi kau sendiri yang tadi bilang mengenai
keadaan kapal ini. Jika kau masih ingin terjebak di kapal ini dan tidak dapat
menemukan apa yang kita cari sampai waktunya habis, silahkan kau paksa aku
untuk mengubah rutenya dan mulai masuk ke lab observasi.”
Kate
hanya melihat James dengan cemas, ia merasa jengkel dan menyesali apa yang ia
katakan kepada James sebelumnya. Namun ia sudah sampai titik ini, para awak
kapalpun sudah lelah dan mereka tidak bisa kembali ke bumi sekarang, tidak
dengan situasi yang terjadi disana. Mereka hanya bisa maju atau mati di
angakasa ini.
Kateherine
menarik nafas panjang dan melihat kearah kockpit, kearah ruang angkasa luas
yang berisi partikel hitam tanpa batas dan tanpa tau kapan dan dimana ujung
dari ruang hampa ini.
“Baiklah, lakukan.” Kata Katherine
sambil terseyum masam.
“Nyalakan
mesin pendorong, kita pergi ke rute yang sudah di tetapkan. Kencangkan sabuk
anda saudara-saudari. Kita akan sampai ke tempat yang kita cari, dan kita akan
menyelesaikan misi ini, segera. Demi Bumi !!!” James berteriak dan berusaha
membangkitkan semangat seluruh awak kapal.
Merekapun berteriak dan berseru
bersama karena merasa bersemangat dan menanamkan kepercayaan tinggi kepada
kapten mereka. James melihat lurus kearah kockpit, matanya memancarkan
keyakinan yang luar biasa. Ia tak akan pernah menyia-nyiakan pengalamanya dalam
melakukan ekspedisi, ia menyiapkan seluruh hidupnya untuk misi ini. Dan ia tak
akan mau membuatnya menjadi hal yang sia-sia. Ia harus berhasil pikirnya, ia
harus menemukan pintu masuknya.
“Aku
datang, bersiaplah.” Kata James sambil tersenyum
To be continue...............
Halo, rasanya sudah lama sekali admin gak post apapun di blog ini. Sudah dua tahun lamanya admin gak post apapun, kalau boleh jujur admin sampai lupa kalau punya blog hahaha. Sebelumnya admin mau minta maaf untuk teman-teman pembaca yang sudah pernah baca postingan admin dari 2017 hingga sekarang, karena tidak bisa memenuhi ekspetasi kalian untuk selalu upload hingga sekarang. Banyak hal yang sudah terlewat selama 2 hampir 3 tahun terakhir. Admin sudah lulus dari kuliah dan sekarang sibuk kerja di perusahaan swasta multinasional. Biasalah pekerjaan kantoran yang membosankan, gak ada yang perlu dibanggakan. Selama ini juga admin cukup bersyukur karena admin tidak berhenti untuk meneruskan passion dan hoby admin yaitu menulis. Sampai detik ini admin sudah nulis beberapa naskah fiksi yang kalau admin punya rasa percaya diri yang lebih dan kalau memang tulisan admin cukup bagus mungkin bisa jadi sebuah novel fiksi pada akhirnya. Tapi sepertinya keberanian admin belum sampai sana dan selama 2 tahun terakhir admin hanya keep untuk diri sendiri. Moment mengejutkannya terjadi hari ini, tanpa sengaja setelah berabad-abad admin discover kembali blog lama milik admin ini. Setelah diskusi dengan patner akhirnya admin berani untuk mencoba memposting beberapa potongan dari naskah yang sudah admin buat selama ini yang admin keep sendiri. Kalau sebelumnya admin lebih sering bahas anime tekno dan beberapa informasi lain. Kali ini admin benar-benar berani untuk memposting naskah-naskah karangan admin sendiri ke blog ini. Dengan harapan hanya dua hal, menambah keberanian dan semangat admin untuk terus membuat naskah yang memuaskan pembaca dan mendapat feedback langsung dari reader semua. Kali ini naskah yang admin terbitkan merupakan naskah paling baru yang admin sendiri masih garap sampai sekarang. Kemungkinan akan terus berlanjut selama semangat menulis dan inspirasi masih ada di dada ini. Kalau tiba-tiba gak mood ya mau tak mau berhenti sejenak, tempo admin menulis selalu tergantung dari mood dan kondisi keseharian admin sendiri. Jadi admin minta maaf jika intensitas admin untuk posting mungkin tidak bisa terlalu intens tapi admin pastikan, admin gak akan benar-benar lupa dengan blog ini seperti 2 tahun belakangan. Selama admin masih menulis naskah, pasti akan diusahaakan untuk diposting di blog ini. So with out any further do, enjoy the story :).





















